Workshop Redesain Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE)

Sorong – Perumusan visi keilmuan Program Studi menjadi salah satu agenda strategis dalam kegiatan Workshop Redesain Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE) yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Sorong pada 23–26 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi setiap program studi untuk menyelaraskan arah pengembangan keilmuan dengan kebijakan institusi sekaligus menjawab tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Dalam sesi penyusunan kurikulum, setiap program studi didorong untuk melakukan peninjauan kembali visi keilmuan dengan berpedoman pada visi, misi, tujuan, dan strategi (VMTS) IAIN Sorong serta VMTS fakultas sebagai dasar pengembangan identitas akademik program studi. Melalui pendekatan Outcome Based Education (OBE), visi keilmuan tidak hanya diposisikan sebagai pernyataan normatif, tetapi menjadi landasan utama dalam merumuskan profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), struktur kurikulum, hingga arah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Workshop menghadirkan narasumber pakar kurikulum nasional yang memberikan pendampingan mengenai tahapan penyusunan kurikulum berbasis OBE, mulai dari analisis kebutuhan, perumusan visi keilmuan, penyusunan profil lulusan, CPL, CPMK, hingga penyelarasan Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Pendekatan tersebut memastikan bahwa setiap dokumen akademik memiliki keterkaitan yang sistematis dan berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan.
Keterlibatan Stakeholders
Dalam proses perumusan visi keilmuan, program studi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) baik dari unsur internal maupun eksternal. Unsur internal terdiri atas pimpinan institut, pimpinan fakultas, ketua jurusan, koordinator program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa. Sementara itu, unsur eksternal melibatkan alumni, pengguna lulusan, praktisi pendidikan, dan mitra yang memberikan masukan terhadap arah pengembangan keilmuan agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan pendidikan, serta tantangan global. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan kurikulum yang adaptif, relevan, dan responsif terhadap dinamika masyarakat.

Bagi Program Studi Tadris Bahasa Inggris, forum workshop dimanfaatkan untuk merumuskan visi keilmuan yang mencerminkan keunggulan akademik sekaligus identitas lokal. Berpedoman pada visi institusi “Menjadi Perguruan Tinggi yang unggul, moderat, berwawasan global, dan kreatif berbasis local wisdom,” program studi merumuskan arah pengembangan keilmuan Pendidikan Bahasa Inggris yang menekankan nilai-nilai humanis, moderasi, inovasi, wawasan global, serta integrasi kearifan lokal Papua seperti filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai karakteristik pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Urgensi Kurikulum CINTA
Dalam sesi diskusi, para pemangku kepentingan dari unsur madrasah menyampaikan bahwa redesain kurikulum dan perumusan visi keilmuan Program Studi Kependidikan menjadi kebutuhan yang semakin mendesak seiring diterbitkannya Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta. Regulasi tersebut mengarahkan satuan pendidikan di lingkungan madrasah untuk mengimplementasikan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan ilmu pengetahuan dalam seluruh proses pendidikan. Oleh karena itu, sebagai lembaga yang menyiapkan calon guru madrasah, Program Studi Tadris di bawah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dipandang perlu melakukan penyesuaian visi keilmuan, kurikulum, serta capaian pembelajaran lulusan agar selaras dengan kebijakan nasional tersebut. Para stakeholder menegaskan bahwa PTKIN, khususnya fakultas kependidikan, harus mampu menjawab tantangan yang dihadapi madrasah melalui pengembangan kurikulum yang adaptif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan nyata dunia pendidikan Islam, sehingga lulusan memiliki kompetensi profesional sekaligus mampu mengimplementasikan paradigma Kurikulum Berbasis Cinta dalam praktik pembelajaran.
Ketua LPM IAIN Sorong menegaskan bahwa penyelarasan visi keilmuan dengan VMTS institusi dan fakultas merupakan bagian dari penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Melalui proses yang partisipatif dan berbasis kebutuhan pemangku kepentingan, setiap program studi diharapkan memiliki arah pengembangan keilmuan yang jelas, terukur, serta mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Sebagai tindak lanjut, hasil perumusan visi keilmuan akan menjadi dasar dalam penyusunan dokumen kurikulum OBE, penetapan profil lulusan, pengembangan roadmap penelitian, serta penyelarasan kegiatan tridarma perguruan tinggi sehingga seluruh proses akademik berlangsung secara terpadu dan berkelanjutan.